Archive for Renungan / Homili

jumat, 07 september 2012

1 Kor.4:1-5 (bac. Pertama)
Lukas 5:33-39 (bac. Injil)

“Dalamnya laut tak terduga & dalamnya hati, siapa tahu?” kita cenderung menilai pribadi dari apa yg ia buat/ lakukan! Namun, apakah kita dapat memastikan “sesuatu di balik dari apa yg seseorang tersebut lakukan?” Hanya Tuhan Allah dan yang bersangkutan itulah yang pasti “mengerti/ tahu” akan apa yang sesungguhnya. itulah kiranya yang hendak disampaikan Paulus dalam suratnya kepada umat di Korintus (konteks umat di kota Korintus adalah, umat kurang rukun. masing-masing cenderung membanggakan kelompoknya sendiri, bahkan saling menyombongkan kelompoknya). Ketika orang “jatuh” pada sikap formalis dan legalis misalnya, akan mudah begitu saja “menyalahkan pihak yang tidak sesuai dengan “aturan main”. orang akan sangat mudah kemudian menyalahkan ppihak lain, tanpa perlu mendalami duduk perkara atau alasan di balik perbuatannya itu sendiri! dalam hal seperti inilah, kiranya tulisan Paulus untuk umat di Korintus juga dapat kita jadikan “sarana bantu” bagi diri kita dalam hidup bersama dengan sesama! (untuk lebih jelasnya bagaimana tulisan Paulus itu sendiri, monggo baca saja langsung 1 Korintus 4:1-5).

Yesus pun dalam karyaNya tak luput dari orang-orang yang gampang menilai orang lain dari apa yang dilihat oleh mata mereka itu. – Pada waktu itu orang-orang Farisi berkata kepada Yesus, “murid-murid Yohanes Pembaptis sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid orang Farisi, tetapi murid-muridMu makan dan minum.” (silahkan buka dan baca Lukas 5:33-39). dari kisah Injil hari ini, menurut hemat saya masih dapat kita “lihat” hal positif dari orang-orang Farisi yang sedang berkomunikasi dengan Yesus itu. Karena mereka “ingin tahu, atau pengin ngerti alasannya, atau mungkin bertanya-tanya atas sikap para murid Yesus yang tidak berpuasa sebagaimana murid-murid Yohanes Pembaptis dan murid-murid Farisi, maka mereka memberanikan diri untuk berdialog, mengkomunikasikan hal itu dengan Yesus sendiri. Karena sikap “keterbukaan dari orang-orang Farisi yang mau membuka diri untuk sekadar berdialog/mengkomunikasikan apa yang mereka pertanyakan/herankan itu, maka Yesus pun lantas menjelaskan, memberi keterangan atau “pencerahan” terhadap orang-orang Farisi tersebut.
permenungannya adalah: apakah kita lebih baik daripada orang-orang Farisi sebagaimana dikisahkan dalam Injil hari ini, bila kita mudah “menilai” tidakan orang lain, namun membicarakannya itu bersama dengan orang lain dan bukan membicarakannya langsung bersama pihak yang bersangkutan (istilah Jawanya “ngrasani”) ???

semoga, kisah Injil hari ini, membantu kita untuk melihat “sebuah paradigma baru” dalam hidup bersama dengan sesama, terutama ketika kita hendak “menilai” pihak lain dari apa yang mereka lakukan. apakah kita cenderung untuk membicarakannya bersama dengan orang-orang ttg perbuatan pribadi/kelompok tertentu (tanpa yang bersangkutan/kelompok itu sendiri tahu bhw kita membicarakannya/ngrasani?)

smoga Sabda hari ini membantu kita tuk “memetik buah” rohani bagi hidup kita sehari-hari.

salam hangat,
vidipr

kamis, 06 september 2012

1 Kor.3:18-23 (bac. Pertama)
Lukas 5:1-11 (bac. Injil)

Ketidakrukunan jemaat bukan hanya terjadi di zaman ini, melainkan sudah sejak berabad-abad lalu. Umat di Korintus merupakan salah satu contohnya. Bagaimana umat terkotak-kotakkan dalam kelompok-kelompok tertentu dan masing-masing punya kecenderungan untuk membanggakan kelompoknya tersebut serta kurang rukun antar kelompok satu dengan kelompok yang lain, meski sama-sama sebagai umat pengikut Kristus!atas situasi seperti itulah, st. Paulus memperingatkan umat di Korintus sebagaimana dapat kita baca dalam suratnya yang pertama yang dibacakan dalam misa harian hari ini (sebagai kelanjutan dari tulisannya yang kemarin). st. Paulus mengajak seluruh kelompok umat (pengikut Apolos, pengikut Kefas, pengikut Paulus) untuk menyadari bahwa Kristus-lah yang semestinya lebih disadari oleh mereka sebagai Pemersatu… bukannya memecah-mecahkan diri karena pribadi-pribadi pemimpin yang mereka ikutidan berbuah dalam sikap saling membanggakan kelompoknya sendiri serta enggan, bahkan tak rukun dengan kelompok lain, meski masih sama-sama sbg pengikut Kristus!

Usaha st. Paulus hendaklah menjadi teladannbagi para pemimpin umat (pastor/biarawan/biarawati/pemimpin umat, awam) dalam kepemimpinan mereka. Kita doakan semoga para pemimpin umat mengusahakan supaya umat dapat bersatu dalam keanekaragaman kelompok, bukannya justru menjadikecemburuan umat karena dekatnya pemimpin dengan salah satu kelompok umat serta kurang memperhatikan kelompok umat yang lainnya.

kita doakan pula, usaha para pemimpin umat dalam mempersatukan jemaatnya, supaya tidak merasa bahwa keberhasilan karyanya itu semata-mata merupakan buah keahlian atau kehebatan dirinya sendiri, melainkan menyadari adanya “sampurtangan” illahi di dalam keberhasilannya itu. Semoga kisah injil pagi ini menjadi inspirasi bagi para pemimpin umat akan hal tersebut di atas (bdk. kisah para murid Kristus yang semalam suntuk mencari ikan namun tak dapat-dapat juga, akan tetapi berkat “campurtangan illahi/ Kristus, maka mereka dapat memperoleh sejumlah besar ikan!!! Monggo dibaca saja kisahnya dalam Lukas 5:1-11)

salam hangat,
vidipr

Renungan harian, Rabu 05 September 2012

1Kor. 3: 1 – 9 (bacaan Pertama)
Lukas 4: 3 – 44 (bacaan Injil)

Fokus kepada panggilan hidup bukanlah hal yang mudah, namun bukan berarti tidak dapat diusahakan! Karena keberhasilan karya, orang cenderung memuji, menyanjung, dan tak sedikit pengalaman yang karena keberhasilan entah dalam memberikan presentasi, seminar, retret, rekoleksi, pengajaran, dll, banyak orang kemudian memusatkan perhatian, berorientasikan kepada sosok pribadi tertentu! Pengalaman st. Paulus & Tuhan Yesus hari ini memberi inspirasi dalam kaitannya dengan hal tersebut. Paulus sadar, bahwa banyak orang akhirnya dapat menerima pengajarannya bahkan tak sedikit orang kemudian menjadi pengikut Kristus dalam pendampingan rohani beliau. Akan tetapi, di sisi lain st. Paulus sadar bahwa bukanlah hal itu yang jadi prioritas pokok tugas/ karya pewartaan “InjilNya”. dalam 1 Kor. 3: 1 – 9 dengan jelas dikatakan Palus bahwa “…karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan….dst” Paulus sadar bahwa banyak orang perlu “diluruskan” pola pikirnya, bukan pertama-tama karena kehebatan “siapa” si pemberi/penyampai sabda, melainkan justru fokus pada Sang Sabda itu sendiri-lah, yang hendaknya dijadikan tujuan, acuan, orientasi orang dalam mengikuti Kristus. demikian pula yang dialami Tuhan Yesus dalam kisah Injilnya hari ini (Lukas 3: 3 – 44). Karena Yesus melakukan banyak mukjizat penyembuhan, maka tak heran berdampak pada banyak orang yang tertarik dengan kehadiranNya, bahkan berusaha untuk “mempertahankan” keberadaanNya itu supaya tetap tinggal dekat bersama mereka saja!? Namun demikian, Tuhan Yesus sadar, bahwa tugas panggilan hidupnya bukan untuk “ego-sentris” (memusatkan perhatian pada dirinya sendiri), melainkan “Teo-sentris” (Allah – BapaNya lah yang tetap dijadikan fokus karya perutusanNya di tengah banyak orang). karena itu, meski banyak pujian dan banyak orang inginkan Yesus tetap tinggal dekat bersama mereka itu, Yesus tetap harus “melanjutkan perjalanan pastoralNya” ke daerah-daerah LAIN juga. (baca khususnya Lukas 4:42, “Juga di kota-kota ;ain Aku harus mewartakan Injil tentang kerajaan Allah, sebab untuk itulah Aku diutus”). berdasar kisah kedua bacaan Kitab Suci hari ini, marilah kita berusaha untuk makin menyadari bahwa panggilan hidup kita sebagai pengikut Kristus hendaknya didasarkan pada “Allah sendiri yang menjadi fokus kita dalam proses dinamika hidup beriman”, bukan sekadar berdasarkan pada sosok pribadi tertentu, yang terkadang bahkan hampir pasti tidak selalu akan terus bisa bersama dekat dengan diri kita (misalnya sosok seorang uskup/pastor/suster/bruder/bapak/ibu, tertentu). sebab, bilamana hidup beriman sebagai pengikut Kristus kita dasarkan karena berorientasi pada sosok pribadi tertentu, manakala pribadi tersebut jauh dari kita atau sudah tidak lagi bersama kita (entah karena wafat atau pindah tugas atau mengikuti panggilan lain), orang dapat mudah kecewa, mutung, putus asa, sakit hati, dll. Demikian pula, hendaklah kita berdoa semoga para pemimpin atau gembala gereja dan pelayan firman tidak mudah “jatuh” pada pujian, sanjungan, kecintaan umat atas keberhasilan karyanya dalam mewartakan “Kasih Kristus” bagi umat. karena bilamana gembala “jatuh” pada pujian, sanjungan, dan perhatian umat atas keberasilan karya, bisa jadi dapat menjadikan sang gembala itu sendiri menjadi kurang rendah hati, dan cenderung mengejar kesuksesan-kesuksesan karya yang dirasa sebagai buah kerja kerasnya sendiri, dan makin melupakan bahwa dibalik keberhasilan karyanya itu, Allah yang memanggil itulah yang justru banyak bekerja! orientasi bukan lagi “Teo-sentris” meliankan bisa menyimpang menhjadi “ego-sentris” (terfokus pada sosok pribadi tertentu, sebagai penyampai firman). Mari kita doakan, semoga para petugas pastoral dan para menyampai firman, dan Gembala diingatkan kembali “siapakah” yang seharusnya menjadi fokus orientasi karya…dan kepada siapakah semestinya banyak orang diarahkan untuk mengorientasikan diri sebagai pengikut Kristus (bukan sebagai pengikut kelompoknya sendiri. ingat dan baca kembali kisah st. Paulus dalam bacaan Pertama hari ini dan kisah Yesus sebagaimana dikisahkan dalam Injil hari ini).

semoga Allah membantu kita,
salam hangat
vidi pr

Renungan harian, Selasa 04 September 2012

1 Kor. 2: 10b – 16 (bacaan Pertama)
Lukas 4: 31 – 37 (bacaan Injil)

Tema KBSN tahun ini adalah “menyaksikan mujizat-mukjizat Tuhan”. pertanyaannya adalah: apakah Tuhan masih berkenan menyatakan mukjizatNya pada zaman hidup kita sekarang ini? Mukjizat terjadi, di satu sisi karena Tuhan berkenan melakukanNya, dan di sisi lain ada keterbukaan dari pihak manusia! Injil hari ini mengkisahkan, bagaimana mukjizat pengusiran setan/ roh jahat terjadi, karena Tuhan Yesus berkenan melakukannya, demikian pula pribadi yang dalam dirinya kerasukan roh jahat itu sendiri! Kehadiran dan sabda/firman/perkataan yang keluar dari “orang benar” (Yesus, Yang benar…dari Allah), akan menimbilkan reaksi “tidak nyaman/ terusik, tidak tenang bagi roh jahat (yang diam dalam diri pribadi seorang sebagaimana ditokohkan/ dikisahkan dalam injil hari ini). sebab itu, reaksi/ sikap orang yang di dalam dirinya berdiam roh jahat, akan berusaha untuk menolak, bertentangan dengan Sabda yang keluar atau yang didengarnya itu! banyak orang zaman ini sebanarnya juga ada kesempatan untuk mendengarkan sabda/ firman. Akan tetapi, orang lebih cenderung untuk “menghindar”, malas mendengar dengan keterbukaan diri, bahkan cenderung mengikuti dorongan “si jahat” yg “tersembunyi tinggal dalam pikir & hati manusia! Buahnya adalah, orang lebih mudah mengikuti dorongan roh jahat (sikap, tindakan/ perbuatan yg cenderung ke arah makin menjauhkan diri dari kehendak Allah; yg termanifestasikan dalam olah pikir yg kurang melibatkan suara hati, dan cenderung “mendewakan kinerja otak, mengangungkan kecerdasan manusiawi-duniawi). Hal sperti itu telah disharingkan oleh Paulus, dalam suratnya kepada umat di kota Korintus yang kita baca sejak hari kemarin dan hari ini (lanjutannya). Paulus adalah seorang pemikir ulung, pribadi yang briliant, namun sekaligus sadar bahwa kecerdasan pemikiran pun dapat digunakan “si jahat” untuk “menjauhkan pribadinya” dari kehendak Allah (baca dan renungkan bacaan pertama hari kemarin yang dilanjutkan dengan bacaan pertama hari ini).

semoga, dengan membaca dan merenungkan FirmanNya hari ini (dan hari kemarin), kita terbantu untuk lebih “menyaksikan mukjizat-mukjizat Tuhan” bukan dalam pribadi orang lain, melainkan dalam diri/ hidup kita sendiri. Semoga Allah membantu kita.

salam hangat,
vidipr

renungan harian, Senin 03 September 2012

1 Kor. 2: 1 – 5 (bacaan Pertama)
Lukas 4: 16 – 30 (bacaan Injil)

Dalam Bacaan Pertama, tampak jelas dari tulisannya bagaimana Paulus menyadari bahwa menjadi seorang Pelayan Kristus bukanlah kekuatan diri sendiri yang diandalkan, melainkan mengandalkan diri pada karya Roh Kudus itu sendirilah yang semestinya lebih berperan dan disadari betul. demikian pula dalam kisah Injil, bagaimana Yesus Kristus menyatakan dengan Tegas “Roh Tuhan ada padaKu…” Menjadi seorang pelayan Tuhan, memang tidak selalu dapat memenuhi keinginan-keinginan tiap-tiap orang. bahkan, tak jarang juga alami penolakan (sebagaimana dialami oleh Paulus, juga pengalaman Yesus Kristus Tuhan kita dalam injil hari ini). berhadfapan dengan “penolakan” dan tidak disukai dalam menyampaikan warta/ pelayanan, hendaklah kita jangan lalu berkecil hati dan patah semangat, ingatlah dan belajarlah pada kedua tokoh kitab suci yang hari ini kita dengarkan atau bacakan dan renungkan. bagaimana santo Paulus juga Tuhan Yesus mengalami penolakan bahkan ancaman karena tugas/karya/pengajarannya itu tidak diterima oleh orang-orang tertentu, akan tetapi baik Paulus maupun Tuhan Yesus tetap tegar, sadar bahwa Roh Allah terus bekerja dalam karya baik yg dilakukan/diusahakannya. Semoga, manakala kita alami penolakan, tidak diterima karena sebagai pengikut Kristus, hendaklah kita tak mudah patah semangat, sebab Tuhan Yesus dan rasulnya (Paulus) hari ini memberi teladan bagaimana kita mesti terus melaksanakan karya-karya baik dalam mewartakan kabar baik (injil) dalam hidup bersama dengan sesama. Semoa Allah membantu kita. Amin – vidi pr

Minggu Palma thn B (2012)

saudari-saudaraku dalam Kristus Yesus,

Hari ini, kita mulai mamasuki Pekan Suci dengan perayaan Minggu Palma.

Perayaan ini mengajak kita mengenang kembali sebagaimana dahulu kehadiran Tuhan Yesus disambut, diagung-agungkan, dipuji-puji. kini, DIA pun kita sambut, kita agung-agungkan dan kita puji dalam GerejaNya. dan kelak, dalam Kerajaan Sorga, Kristus Tuhan dimuliakan, diagungkan, dipuji dan disembah.

kisah sengsara Tuhan dalam perayaan Minggu Palma ini, memperlihatkan betapa besar cintaNya terhadap manusia, sehingga ia tetap setia-taat pd kehendak BapaNya (bukannya mengutamakan kehendak, kepentingannya sendiri sbg manusia), bahkan hingga harus mengurbankan diriNya mengalami penderitaan salib!

kisah Sengsara Tuhan menginspirasi kita sebagai murid2Nya: sejauh manakah bukti ketaatan, kesetiaan kita thd yang kita cintai? apakah diri kita mencintai dengan tetap mengutamakan kepentingan2, kehendak kita sendiri tuk dipaksakan thd yg kita cintai? ketaatan macam apa yg kita wujudkan sebagai salah satu bentuk konkrit rasa cinta kita, terutama bilamana itu menuntut suatu pengurbanan (dari kehendak/keinginan2 diri sendiri?)

selamat minggu Palma

smoga Tuhan membantu & memberkati kita,

shaloom

vidi pr